21/05/15
24/08/12
Buka PuasaBersama Para Tokoh Lintas Agama
Wonosobo: Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univesitas Sains Alquran (UNSIQ), pada Selasa,
7/8/12 pukul 15:30 WIB, telah menyelenggarakan acara“Jagong Budaya dan Lintas Agama-Berbuka Puasa Bersamadengan Membagi-bagikan
1000 kolak”, berlokasidi Paseban alun-alun kota.
Panitia acara
telah mengundang berbagai narasumberl intas agama, diantaranya: NurulMubin,
M.Si (intelektual mudadan ketua Lakpesdam NU Wonosobo), Sajid Ahmad Sutikno dan
Erik Ahmad Fatih (Perwakilan Islam/JemaatAhmadiyah Indonesia kabupatenWonosobo),
Lukito (DPD Walubi/Buddha Wonosobo), Drs. Yoyok (Perwakilan Katholik) danMulyani
(Ormas spiritual lokal Pangestu).
Hadirin
yang datang lebih dari 100 orang diantaranyad ari Hindu, Kong hu Cu, Kristen,
Tao, beberapa aktivis/tokoh ormas Islam seperti NU, budayawan, aktivisPMII,
Teater Banyu, para santri Ponpes, para mahasiswi Unsiq, muslimat NU, aktivis muda
Jemaat Ahmadiyah (Khudam), perwakilan Lajnah Imaillah kab.Wonosobo, dan lain sebagainya.
Pertemuan
santai tersebut dilaksanakan selain untuk menjalin tali silaturrahmi, saling memahami,
merawat kerukunan yang selama ini berjalan baik di kabupaten Wonosobo, juga untuk
memperbincang tema puasa di masing-masing agama dan keyakinan oleh para nara sumber.
Acara yang
dipimpin langsung oleh Haqqi Al-Anshori, S.Ag (koordinator Lintas Agama/ FUB dan
budayawan Wonosobo) selama lebih kurang 2 jam tersebut berjalan cukup sukses. Sehingga
suasana persaudaraan dan keharmonisanpun bisa dirasakan para hadirin.
Disaat sesi
pemaparan singkat dari berbagai perwakilan, Nurul Mubin, M.Si mendapat bagian pertama
menyampaikan makna dan hakikat berpuasa bagi umat Islam.
Mulyani dari
organisasi lokal spiritual Pangestu menyampaikan bahwa puasa adalahs arana manusia
untuk menahan segala hawa nafsu selain sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada
Sang Khalik. “Dengan puasa seharusnya masing-masing dalam diri manusia ada perubahan
lebih baik dari sebelumnya, dalam arti lain setiap kita hendaknya menjadi pribadi-pribadi
yang berubah kearah yang lebih baik”.Ia menganalogkan perubahan itu seperti ulat
dan bukan seperti ular.
Drs.
Yoyok perwakilan agama Katholik menyampaikan bahwa dalam agamanya pun puasa diajarkan.
“Kebiasaan di agama kami berpuasa itu di sebut pra-paska yang lamanya 40 hari, dan masa-masa itu kamimenyebutnya sebagai
masa ritreb agung yang berarti masa evaluasi
diri/penyadaran diri seberapa pantasnya diri kami disebut sebagai orang beriman
untuk mempertanggung-jawabkan dihadapanTuhan”.
Kemudian
Lukito dariWalubi/Buddha menyampaikan bahwa puasad alam agama Buddha diajarkan olehSang
Buddha yang tujuannya sebagai sarana pengendalian
diri. Puasa di tanah Jawa di masa agama Buddha sudah ada sejak sebelum Majapahit,
bahkan sejak sebelum kerajaan Mataram kuno. Puasa itu secara bahasa berasal dari
kata Upo Wuoso atau Upa Wuasa yang dalam bahasa Jawas ekarang lebih dikenal dengan
kata Poso/Pasa sehingga dalam bahasa Indonesia disebut Puasa. Arti puasa itu sendiri
adalah mengurangi makan/terikat, yaitu diamalkannya dengan cara tidak boleh berbuat
jahat, menempuh hidup sederhana dll. Contohnya tidur dengan alas tidur sederhana
di lantai, makan sayur tidak makan daging dll , dan itu dilakukan dari jam 11
siang hingga jam 6 pagi.
Pemaparan
terakhir dari perwakilan Islam oleh ustadz/mubaligh Jemaat Ahmadiyah Sajid
Ahmad Sutikno (pembawa acara menyampaikan bahwa dikarenakan para kyai yang seharusnya
menjadi nara sumber tidak bisa hadir, maka pembicara dari Islam akan diwakili ustadz
Ahmadiyah,–hadirin tepuk tangan dantertawa senang).
Setelah menyampaikan
salam, mubaligh Jemaat Ahmadiyah yang lebih dikenal dengan sapaan ustadz Tikno ini
mengawali pemaparannya secara santai dengan membaca syahadat dan sholawat Nabi
Muhammad SAW. Kemudian mengupas firman Allah Taala dalam QS. Al-Baqarah:184(tafsir
Jemaat Ahmadiyah). Ayat tersebut membicarakan
bahwa selain umat Islam diwajibkan berpuasa, umat-umat agama lain sebelum Islam
pun ada perintah berpuasa. Puasa sebagai peraturan agama dalam bentuk/dengan perincian
bagaimana pun terdapat pada tiap-tiap agama. “Maka terbuktilah kebenaran dari ayat
tsb, bahwa kita tahu dari para narasumber tadi, di dalam masing-masing agama nya
ada ajaran berpuasa meskipun mungkin bentuk/ corak dan tatacaranya berbeda-beda.
Puasa sangat perlu untuk kemajuan rohani dan mengandung daya mensucikan yang
kuat sekali kepada alam pikiran”.
Ia melanjutkan,
bahwa “menurut Islam, puasa merupakan lambang pengorbanan yang sempurna seorang
hamba kepada Tuhannya. Orang yang berpuasa membuktikan kesediaannya yang
sungguh-sungguh, bila diperlukan, mengorbankan segala-galanya untuk kepentingan
Tuhan Allah Ta’ala-nya”.Orang yang berpuasa menyadari selain menempuh ibadah-ibadah
yang menimbulkan dalam hati manusia panas/kehangatan cinta kepada Khaliknya, juga
menyadari adanya solidaritas kepada sesama manusia.
“Hikmah
lain berpuasa bagi kita adalah kita diajarkan bagaimana ber-tashamuh
(toleransi), bagaimana kita mengedalikan diri, kepedulian, dan kebersamaan diantara
sesama umat manusia” lanjutnya.
Pemaparan
dari Jemaat Ahmadiyah diakhiri dengan ajaran tirakat dan puasa dalam tembang Kinanthi dalam buku Wulangreh karya Mangkunegara
raja Surakarta. Antara lain : “Padha gulangen ing kalbu” (pandailah mengelolah batin)-“ing
sasmita pinrih lantip” (peka dan tanggap jika ada isyarat/kegelisahan dari
orang lain)- “Aja pijer mangan nendra” (jangan hanya pandai makan dan tidur)
–“Sudanen Dhahar lawan guling (oleh karenanya kurangilah makan dan tidur).
Acara kemudian
dilanjutkan dengan sesi Tanya-jawab. Selain pertanyaan-pertanyaan seputar puasa,
penentuan hokum hilal (hisabdanru’yat) ke beberapa narasumber, perwakilan Jemaat
Ahmadiyah banyak mendapatkan pertanyaan diluar tema diantaranya: akidah dan penuduhan
sesatt erhadap Ahmadiyah, dll.
Setelah selesai
menjawab pertanyaan-pertanyaan, mubaligh Sajid menutup dengan bacaan tahiyat shalat
yang diamalkan warga Ahmadiyah, yang isinya adalah syahadat dan shalawat kepada
Nabi Muhammad SAW. Sebagai bukti ke-Islaman Ahmadiyah, dan menyampaikan bahwa bukti
ke-Islaman lainnya adalah pada bulan Ramadhan biasa menjalani puasa seperti umat
Islam lainnya, sebagai pengamalan ajaran Alquran dan Nabi Suci Muhammad SAW
yang tertera dalam rukun Islam, hadirin pun secara serentak menggemakan takbir dan
bertepuk tangan.
Kemudian
tibalah waktu berbuka puasa, hadirin semua pun memulai mencicipi hidangan yang
disiapkan panitia, kolak dan nasi bungkus. Setelah itu acara ditutup dengan doa
dari masing-masing tokoh lintas agama untuk Muslim Rohingya Myanmar yang
terus-menerus mengalami derita. Panitia pun meminta ustadz Sajid untuk memimpin
doa pertama perwakilan dari Islam, kemudiandari Buddha, Katholik dan Pangestu.
Hadirin pun berjabatantangan dan pulang.SAS /edit;nks.[]
Buka PuasaBersama Para Tokoh Lintas Agama
Wonosobo: Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univesitas Sains Alquran (UNSIQ), pada Selasa,
7/8/12 pukul 15:30 WIB, telah menyelenggarakan acara“Jagong Budaya dan Lintas Agama-Berbuka Puasa Bersamadengan Membagi-bagikan
1000 kolak”, berlokasidi Paseban alun-alun kota.
Panitia acara
telah mengundang berbagai narasumberl intas agama, diantaranya: NurulMubin,
M.Si (intelektual mudadan ketua Lakpesdam NU Wonosobo), Sajid Ahmad Sutikno dan
Erik Ahmad Fatih (Perwakilan Islam/JemaatAhmadiyah Indonesia kabupatenWonosobo),
Lukito (DPD Walubi/Buddha Wonosobo), Drs. Yoyok (Perwakilan Katholik) danMulyani
(Ormas spiritual lokal Pangestu).
Hadirin
yang datang lebih dari 100 orang diantaranyad ari Hindu, Kong hu Cu, Kristen,
Tao, beberapa aktivis/tokoh ormas Islam seperti NU, budayawan, aktivisPMII,
Teater Banyu, para santri Ponpes, para mahasiswi Unsiq, muslimat NU, aktivis muda
Jemaat Ahmadiyah (Khudam), perwakilan Lajnah Imaillah kab.Wonosobo, dan lain sebagainya.
Pertemuan
santai tersebut dilaksanakan selain untuk menjalin tali silaturrahmi, saling memahami,
merawat kerukunan yang selama ini berjalan baik di kabupaten Wonosobo, juga untuk
memperbincang tema puasa di masing-masing agama dan keyakinan oleh para nara sumber.
Acara yang
dipimpin langsung oleh Haqqi Al-Anshori, S.Ag (koordinator Lintas Agama/ FUB dan
budayawan Wonosobo) selama lebih kurang 2 jam tersebut berjalan cukup sukses. Sehingga
suasana persaudaraan dan keharmonisanpun bisa dirasakan para hadirin.
Disaat sesi
pemaparan singkat dari berbagai perwakilan, Nurul Mubin, M.Si mendapat bagian pertama
menyampaikan makna dan hakikat berpuasa bagi umat Islam.
Mulyani dari
organisasi lokal spiritual Pangestu menyampaikan bahwa puasa adalahs arana manusia
untuk menahan segala hawa nafsu selain sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada
Sang Khalik. “Dengan puasa seharusnya masing-masing dalam diri manusia ada perubahan
lebih baik dari sebelumnya, dalam arti lain setiap kita hendaknya menjadi pribadi-pribadi
yang berubah kearah yang lebih baik”.Ia menganalogkan perubahan itu seperti ulat
dan bukan seperti ular.
Drs.
Yoyok perwakilan agama Katholik menyampaikan bahwa dalam agamanya pun puasa diajarkan.
“Kebiasaan di agama kami berpuasa itu di sebut pra-paska yang lamanya 40 hari, dan masa-masa itu kamimenyebutnya sebagai
masa ritreb agung yang berarti masa evaluasi
diri/penyadaran diri seberapa pantasnya diri kami disebut sebagai orang beriman
untuk mempertanggung-jawabkan dihadapanTuhan”.
Kemudian
Lukito dariWalubi/Buddha menyampaikan bahwa puasad alam agama Buddha diajarkan olehSang
Buddha yang tujuannya sebagai sarana pengendalian
diri. Puasa di tanah Jawa di masa agama Buddha sudah ada sejak sebelum Majapahit,
bahkan sejak sebelum kerajaan Mataram kuno. Puasa itu secara bahasa berasal dari
kata Upo Wuoso atau Upa Wuasa yang dalam bahasa Jawas ekarang lebih dikenal dengan
kata Poso/Pasa sehingga dalam bahasa Indonesia disebut Puasa. Arti puasa itu sendiri
adalah mengurangi makan/terikat, yaitu diamalkannya dengan cara tidak boleh berbuat
jahat, menempuh hidup sederhana dll. Contohnya tidur dengan alas tidur sederhana
di lantai, makan sayur tidak makan daging dll , dan itu dilakukan dari jam 11
siang hingga jam 6 pagi.
Pemaparan
terakhir dari perwakilan Islam oleh ustadz/mubaligh Jemaat Ahmadiyah Sajid
Ahmad Sutikno (pembawa acara menyampaikan bahwa dikarenakan para kyai yang seharusnya
menjadi nara sumber tidak bisa hadir, maka pembicara dari Islam akan diwakili ustadz
Ahmadiyah,–hadirin tepuk tangan dantertawa senang).
Setelah menyampaikan
salam, mubaligh Jemaat Ahmadiyah yang lebih dikenal dengan sapaan ustadz Tikno ini
mengawali pemaparannya secara santai dengan membaca syahadat dan sholawat Nabi
Muhammad SAW. Kemudian mengupas firman Allah Taala dalam QS. Al-Baqarah:184(tafsir
Jemaat Ahmadiyah). Ayat tersebut membicarakan
bahwa selain umat Islam diwajibkan berpuasa, umat-umat agama lain sebelum Islam
pun ada perintah berpuasa. Puasa sebagai peraturan agama dalam bentuk/dengan perincian
bagaimana pun terdapat pada tiap-tiap agama. “Maka terbuktilah kebenaran dari ayat
tsb, bahwa kita tahu dari para narasumber tadi, di dalam masing-masing agama nya
ada ajaran berpuasa meskipun mungkin bentuk/ corak dan tatacaranya berbeda-beda.
Puasa sangat perlu untuk kemajuan rohani dan mengandung daya mensucikan yang
kuat sekali kepada alam pikiran”.
Ia melanjutkan,
bahwa “menurut Islam, puasa merupakan lambang pengorbanan yang sempurna seorang
hamba kepada Tuhannya. Orang yang berpuasa membuktikan kesediaannya yang
sungguh-sungguh, bila diperlukan, mengorbankan segala-galanya untuk kepentingan
Tuhan Allah Ta’ala-nya”.Orang yang berpuasa menyadari selain menempuh ibadah-ibadah
yang menimbulkan dalam hati manusia panas/kehangatan cinta kepada Khaliknya, juga
menyadari adanya solidaritas kepada sesama manusia.
“Hikmah
lain berpuasa bagi kita adalah kita diajarkan bagaimana ber-tashamuh
(toleransi), bagaimana kita mengedalikan diri, kepedulian, dan kebersamaan diantara
sesama umat manusia” lanjutnya.
Pemaparan
dari Jemaat Ahmadiyah diakhiri dengan ajaran tirakat dan puasa dalam tembang Kinanthi dalam buku Wulangreh karya Mangkunegara
raja Surakarta. Antara lain : “Padha gulangen ing kalbu” (pandailah mengelolah batin)-“ing
sasmita pinrih lantip” (peka dan tanggap jika ada isyarat/kegelisahan dari
orang lain)- “Aja pijer mangan nendra” (jangan hanya pandai makan dan tidur)
–“Sudanen Dhahar lawan guling (oleh karenanya kurangilah makan dan tidur).
Acara kemudian
dilanjutkan dengan sesi Tanya-jawab. Selain pertanyaan-pertanyaan seputar puasa,
penentuan hokum hilal (hisabdanru’yat) ke beberapa narasumber, perwakilan Jemaat
Ahmadiyah banyak mendapatkan pertanyaan diluar tema diantaranya: akidah dan penuduhan
sesatt erhadap Ahmadiyah, dll.
Setelah selesai
menjawab pertanyaan-pertanyaan, mubaligh Sajid menutup dengan bacaan tahiyat shalat
yang diamalkan warga Ahmadiyah, yang isinya adalah syahadat dan shalawat kepada
Nabi Muhammad SAW. Sebagai bukti ke-Islaman Ahmadiyah, dan menyampaikan bahwa bukti
ke-Islaman lainnya adalah pada bulan Ramadhan biasa menjalani puasa seperti umat
Islam lainnya, sebagai pengamalan ajaran Alquran dan Nabi Suci Muhammad SAW
yang tertera dalam rukun Islam, hadirin pun secara serentak menggemakan takbir dan
bertepuk tangan.
Kemudian
tibalah waktu berbuka puasa, hadirin semua pun memulai mencicipi hidangan yang
disiapkan panitia, kolak dan nasi bungkus. Setelah itu acara ditutup dengan doa
dari masing-masing tokoh lintas agama untuk Muslim Rohingya Myanmar yang
terus-menerus mengalami derita. Panitia pun meminta ustadz Sajid untuk memimpin
doa pertama perwakilan dari Islam, kemudiandari Buddha, Katholik dan Pangestu.
Hadirin pun berjabatantangan dan pulang.SAS /edit;nks.[]
09/08/12
Ramadhan di Transito
Laporan: AHMAD NAJIB BURHANI- Kandidat
Doktor di Universitas California-Santa Barbara; Peneliti LIPI
Tuesday, 07 August 2012
Bagi orang kaya ,Ramadan adalah bulan untuk merasakan penderitaan orang yang lemah, serta menjadi waktu untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian sosial. Tapi apa makna puasa bagi mereka yang selama bertahun-tahun hidup tertindas dan tersingkirkan, seperti komunitas Ahmadiyah yang menghuni Asrama Transito di Mataram -NTB?
Bagi orang kaya ,Ramadan adalah bulan untuk merasakan penderitaan orang yang lemah, serta menjadi waktu untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian sosial. Tapi apa makna puasa bagi mereka yang selama bertahun-tahun hidup tertindas dan tersingkirkan, seperti komunitas Ahmadiyah yang menghuni Asrama Transito di Mataram -NTB?
Mereka terusir dari sana pada 2002 dan kemudian pindah ke Gegerung, Lombok Barat, untuk memulai kehidupan baru. Belum lama menempati rumah baru, pada 2006 mereka kembali diserang dan diusir. Rumah mereka dihancurkan dan dijarah. Sejak itulah orang-orang Ahmadi ini menumpang di Asrama Transito mirip seperti stateless citizens.
Orang-Orang yang Tegar
Ketika saya bertemu para penghuni Transito di awal Ramadan ini,yang mengherankan, tidak ada kesan sedih di wajah mereka. Mereka memadati musala kecil untuk salat tarawih dan tadarus Alquran. Mereka bisa menampilkan senyum dan melayani tamu sebaik yang mereka mampu. Masa yang terlalu lama dalam penderitaan membuat orang-orang ini mampu menyesuaikan diri dengan nasib dan merangkul dengan baik musibah yang mereka terima.Tidak ada tangisan atau keluhan, apalagi kesan untuk dikasihani.
Barangkali, seperti disampaikan oleh pembina spiritual mereka, air mata mereka memang sudah habis. Apa yang justru muncul dari para penghuni Transito ini adalah keyakinan bahwa penderitaan yang mereka alami adalah bukti kebenaran nubuwwah.Sebagaimana dalam cerita nabi-nabi, orang-orang yang berpegang teguh pada keyakinan yang benar akan selalu mengalami persekusi, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sekitarnya. Mereka yakin bahwa pada masa-masa tertentu,ulama yang semestinya menjadi pembimbing umat justru banyak yang menjadi sejahat-jahatnya makhluk Tuhan di muka bumi.
Bagi mereka,itu terjadi sekarang ini terutama ketika ulama menuduh mereka sesat dan kafir. Keyakinan akan kebenaran iman membuat mereka tegar dalam penderitaan. Meski dalam kondisi miskin misalnya,mereka tetap menyisihkan apa yang mereka peroleh untuk membayar zakat setiap bulan,bukan hanya pada Ramadan. Mereka rajin bekerja dan tidak mengemis, apalagi menjual kemiskinan dan penderitaan. Dengan sekuat tenaga mereka menyekolahkan semua anaknya meski pemerintah mendiskriminasi mereka dalam memberikan bantuan untuk orang miskin.
Heresi dan Hilangnya Toleransi
Ramadan selalu ditekankan sebagai bulan toleransi dan kesadaran akan penderitaan orang lain.Tapi, sepertinya kesadaran itu tak berlaku terhadap mereka yang dituduh sesat atau heretik seperti jemaat Ahmadiyah. Pada tahun tahun lalu misalnya, meski semua orang miskin mendapat kiriman zakat, orang-orang di Transito dikecualikan.
Kebencian sebagian umat Islam terhadap Ahmadiyah sebegitu dalamnya, hingga orang semisal Abu Bakar Baasyir dan beberapa orang di Nusa Tenggara Barat menuduh orang Ahmadi lebih buruk dari PKI (Partai Komunis Indonesia). Jika mereka masih menaruh hormat kepada nonmuslim, terhadap Ahmadiyah rasa hormat itu sudah tidak ada lagi. Kebencian ini akan semakin terlihat ketika kita menyimak pernyataan dari Sobri Lubis yang menyebutkan bahwa darah orang Ahmadiyah bukan hanya “halal” (boleh dibunuh), tapi “holol” (berlipat-lipat kehalalannya).
Persamaan ibadah ritual, syahadat, dan kitab suci tidak bisa dijadikan titik yang mempertemukan kelompok garis keras dan Ahmadiyah. Sebaliknya, itu semua menjadi titik permusuhan dan dipakai oleh kelompok garis keras untuk menuduh bahwa Ahmadiyah telah menodai, membajak, dan membunuh Islam dari dalam. Dalam sosiologi heresi, persamaan itulah yang menjadi penyebab kebencian orang kepada mereka yang dituduh sesat jauh lebih sadis daripada kebencian kepada orang murtad atau orang kafir sekalipun.
Beberapa ulama di negeri ini tunduk kepada fatwa dari Saudi Arabia yang dikeluarkan oleh OKI (Organisasi Konperasi Islam) dan Rabita Alam Islami yang meminta umat Islam memutus hubungan sosial, ekonomi, dan politik dengan orang Ahmadiyah. Fatwa ini menyebabkan orang kehilangan toleransi dan perikemanusiaan terhadap anggota Ahmadiyah yang tinggal di Transito.
Ini juga yang menjadikan sebagian orang Islam tidak bisa membagikan kesadaran sosial puasa kepada Ahmadi, tak bisa membagi zakat mereka kepada pengikut Ahmadiyah yang miskin, tertindas, dan terusir. Semoga puasa kita total dan kemanusiaan kita total dan tidak pandang _bulu.Amin.
AHMAD NAJIB BURHANI
Kandidat Doktor di Universitas California-Santa Barbara; Peneliti LIPI
Architect and Property Designer
Pesona Merapi Kav. D26
Jalan Kapten Haryadi KM 1 Ngaglik
Jogjakarta 55581 INDONESIA
13/07/12
IMAM ZAMAN DARI MASA KE MASA
Oleh: M. Syaeful ‘Uyun
Al-Quran
mengajarkan tiga prinsip dasar kehidupan beragama: ber-Islam, ber-Jamaah, dan ber-Imamah.
05/07/12
Pemuda Ahmadiyah Ghana Siap Berpolitik Damai dan Bersih
RABU, JULI 4, 2012
![]() |
| Ijtima Pemuda Ahmadiyah Ghana 2012- Politik Tidak Haram! |
Abdul-Salam Sualih, presiden dari wilayah Barat Utara gerakan
menasihati pemuda untuk melihat kedua ideologi dan prinsip-prinsip Islam dari
pesta sebelum bergabung itu.
Konferensi regional tahunan Majlis Khuddamul Ahmadiyah, sayap pemuda dari gerakan ini telah diadakan di Jirapa, ibukota distrik Jirapa.
Konferensi dua hari ini diadakan dengan tema'' Peran pemuda Ahmadiyah menuju pemilu damai dan transparan''.
Pembicara tamu di fungsi, Caesario kangkung, wakil Upper West Menteri Regional yang pidato dibacakan atas namanya memuji misi Ahmadiyah untuk peran positif yang telah dimainkan di negara dengan referensi khusus untuk pendidikan dan kesehatan.
Kale Bapak mengatakan itu adalah harapan mereka bahwa mereka tidak akan beristirahat di dayung mereka tetapi berusaha untuk menyebarkan kasih sayang mereka kepada orang lain di seluruh negeri.
Dia juga memuji Gerakan untuk cara dapat mereka memiliki memobilisasi pemuda dan mendesak mereka untuk menggunakan kesempatan untuk berbicara menentang kejahatan sosial dan untuk mengangkat nilai-nilai moral, mengatakan bahwa mereka harus didedikasikan dan berani dalam karya-karya organisasi mereka dengan keluar dengan pekerjaan dapat dikerjakan rencana untuk pemuda di negeri ini.
Dia menuduh para pemuda untuk membangun kapasitas mereka dalam pemerintahan lokal untuk kebaikan bangsa.
Dia mengatakan kebijakan pemuda dari pemerintah NDC ini diarahkan pembangunan nasional yang menyatakan bahwa pengangguran Pemuda sekarang menjadi masalah besar di dunia dan Ghana belum terhindar dari fenomena negatif dari pengangguran.
Dia meminta para pemuda dari negara untuk memanfaatkan peluang yang ada di negara ini.
Abdul-Salam Sualih, presiden dari wilayah Barat Utara gerakan menasihati pemuda untuk melihat kedua ideologi dan prinsip-prinsip Islam dari pesta sebelum bergabung itu.
Dia meminta mereka untuk menjauhkan diri dari politik balas dendam, kebencian, keserakahan, korupsi, kebohongan dan imoralitas.
Lebih lanjut ia meminta para pemuda terutama mereka yang terlibat dalam politik untuk berbicara kebenaran dalam situasi apa pun mereka menemukan diri mereka sendiri. Kegagalan untuk mematuhi berarti,'' Anda telah kehilangan kesempatan untuk mengatakan pada dunia potensi diri, Anda telah dipermalukan keluarga Anda sendiri dan terakhir Anda telah kecewa'' agamamu karena Allah memerintahkan semua Muslim untuk berbicara kebenaran bahkan pada bahayanya hidup Anda. (Ahmadiyah Times | Berita Tonton | Int'l Meja ,Sumber / Kredit: Joy Berita | Ghana Dengan Rafiq Salam | 3 Juli 2012 )
01/07/12
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad- Ahmadi Muslim Spiritual Leader -KUNJUNGI Kongres USA
Kamis, 28 Juni, 2012
Ahmadiyah dilarang secara bebas mempraktekkan iman mereka di
Pakistan, Mesir, Indonesia dan Arab Saudi, antara bangsa-bangsa lain, dan
sering menjadi korban kekerasan yang berwenang sering berbuat banyak untuk
mencegah.
WASHINGTON (RNS) The Ahmadiyah Muslim Community dianiaya di seluruh dunia, tetapi memiliki banyak teman di Capitol Hill.
Pemimpin Minoritas DPR Nancy Pelosi, D-California., Bergabung dengan lebih dari 20 rekan House dan setidaknya satu senator Rabu (Juni 27) dalam sebuah resepsi untuk menandai kunjungan pertama pemimpin spiritual Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, kepada Kongres.
Pemuda Muslim Ahmadiyah Ghana Tawarkan Perdamaian di Pemilu 2012
Sabtu, 30 Juni, 2012 Abdul-Salam Sualih, Presiden, Barat Laut Daerah Misi Ahmadiyah, yang berbicara dengan topik: "Politik dan Islam: Peran Pemuda Ahmadi," menyatakan bahwa jika politik adalah tentang pembangunan bangsa maka tidak ada yang bisa mengatakan Islam tidak ada hubungannya dengan politik.
Pemuda Muslim Ahmadiyah di wilayah Upper West telah mengajukan banding ke Ghana dan lembaga mandat untuk mengawasi pemilu Desember untuk melakukan tugas mereka dengan baik untuk membuat pemilihan umum yang bebas, adil, transparan dan damai.23/06/12
INFO PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN KANKER
Memulihkan fungsi empat organ tubuh
utama dan melepaskan tekanan batin
oleh: dr Andry Hartono
oleh: dr Andry Hartono
Bagi pasien kanker, asal fungsi empat organ tubuh, berupa limpa, hati,
usus besar dan ginjal sehat kembali, sudah boleh mengucapkan selamat berpisah
dengan penyakit kanker, kencing manis, penyakit jantung dan darah tinggi.
Ketika pagi tadi saya memeriksa kembali para pasien kanker, banyak dari pasien kanker itu yang tadinya menderita tekanan darah tinggi, sekarang tekanan darahnya sudah normal, tadinya menderita penyumbatan pembuluh darah, sekarang tidak perlu lagi mengkonsumsi obat.
Ketika pagi tadi saya memeriksa kembali para pasien kanker, banyak dari pasien kanker itu yang tadinya menderita tekanan darah tinggi, sekarang tekanan darahnya sudah normal, tadinya menderita penyumbatan pembuluh darah, sekarang tidak perlu lagi mengkonsumsi obat.
05/04/12
JALSAH SALANAH 2012, WILAYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Laporan: Abu Anis
Jalsah Salanah 2012 Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta telah berlangsung dengan lancar dan sukses pada tanggal 23 s/d 25 Maret 2012. Alhamdulillah. Jalsah Salanah Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2012 kali ini diselenggarakan di sebuah area Wisata Hutan Pendidikan Wanagama milik Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta yang berlokasi di Kabupaten Gunung Kidul.
"Wanagama" adalah merupakan sebuah area yang terdiri dari beberapa fasilitas bangunan gedung penginapan setaraf hotel serta gedung pertemuan yang cukup representatif, dengan daya tampung 300 orang, dibangun di tengah-tengah hutan oleh Fakultas Kehutanan UGM, selain digunakan untuk tujuan pendidikan dan penelitian juga dapat digunakan oleh umum yang memerlukan.
Acara Jalsah Salanah Wilayah DI Yogyakarta di buka pada hari Jum'at, ba'da shalat Jum'at oleh Muballigh Wilayah DI Yogyakarta, Mln.Nanang Sanusi, selaku yang mewakili kehadiran Bpk. Amir Nasional. Selengkapnya Baca KLIK Disini...
Langganan:
Postingan (Atom)




