12/11/11

Tabligh Lele Sangkuriang Model Kalimantan Barat

Laporan : Iskandar Ahmad Gumay

Kalbar, SA Online, Nov 2011
Petak-petak kolam terpal berukuran 3 x 4 m berjajar rapi didepan rumah misi Bengkayang.  Dalam kolam yang berjumlah 12 buah dan berair warna hijau pekat itu, ribuan benih lele Sangkuriang dengan berbagai ukuran berenang kian kemari. Mulut-mulut kecilnya timbul tenggelam mengambil udara dipermukaan kolam. Pada waktu makan tiba, saat pelet ditebar maka pesta dimulai. Ikan-ikan bergerombol memperebutkan jatahnya pada hari itu, saling berlomba. Sungguh pemandangan yang sangat mengasikkan.

Ternyata tidak hanya seru memperhatikan pergerakan benih-benih lele, yang sekarang ini menjadi primadona dikalangan para pengusaha lele. Mengamati pergerakan lele Sangkuriang di Kalbar juga menarik untuk kita simak.

Lele Sangkuriang merupakan lele jenis unggul, turunan dari lele dumbo yang masuk ke Indonesia pada tahun 1985. Lele dumbo yang dulu merajai dunia perlelean di Indonesia saat ini  tengah turun pamor dan kualitas. Hal ini karena perkawinan dan persilangan yang dilakukan sembarangan, termasuk menggunakan indukan yang berkualitas rendah.  

Untuk mengatasi permasalahan ini, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi kemudian melakukan berbagai penelitian dan rekayasa genetic terkait lele dumbo. Hasilnya lahirlah “lele Sangkuriang” yang berkualitas seperti lele dumbo dimasa awal datang keIndonesia. Lele Sangkuriang ini istimewa karena tingkat produksinya lebih tinggi, panen lebih cepat, pengembangannya lebih singkat, daya tetas dan kemampuan bertelur lebih tinggi, lebih tahan penyakit dan kualitas daging lebih unggul. Karena dibudidayakan secara organic maka rasa dagingnya pun lebih enak dan sehat.

Didaerah Jawa mungkin lele Sangkuriang  ini sudah tidak asing, tapi di Kalbar lele Sangkuriang belum banyak dikenal. Cerita punya cerita, Bapak Al-Fitri, Nazim Anshorullah Kalbar, seorang putra daerah yang lama merantau ke Jawa, tengah putar otak untuk memajukan tanah kelahirannya. Tidak hanya dari sisi ekonomi tapi juga dari sisi kejemaatan. Bertemulah kedua sisi tersebut  via internet. Rupanya apa yang menjadi harapan Pak Fitri sedikit banyak bisa dipenuhi oleh sang lele. Bagaimana caranya? Setelah dikaji ternyata usaha ini tidak hanya mempertimbangkan faktor bisnis semata tapi juga mengandung unsur pemberdayaan masyarakat sehingga dapat digunakan sebagai amunisi pertablighan.

Untuk mewujudkan mimpinya, pak Fitri menimba ilmu ke Megamendung, Bogor, berguru pada master lele Sangkuriang, Abah Nasrudin. Setelah mengikuti pelatihan disana, misipun dimulai. Modal dihimpun dan perencanaan dilakukan. Pak Fitri  kemudian berkoordinasi dengan Bapak Amir Nasional dan Mubaligh Wilayah Kalbar yang saat itu dipegang oleh Mln. Iskandar gumay. Lalu dipilihlah cabang Bengkayang  yang berjarak 180 KM  dari Pontianak sebagai pilot project lele Sangkuriang ini. 

Berbagai perlengkapan dan peralatan disiapkan, lalu bekerjasama dengan mubaligh, pengurus dan anggota Bengkayang, dibangunlah kolam-kolam dari terpal untuk sang lele dilahan milik Jemaat, tepatnya didepan rumah misi. Indukan sebanyak 2 paket yang berisi 32 ekor ikanpun didatangkan dari sang master. Proses pengembangbiakan dan pemeliharaan dilakukan.
Ternyata berbagai tantangan menghadang. Separuh lebih dari jumlah indukan yang ada mati karena cuaca yang ekstrim disana. Namun dengan semangat membaja, berbagai upaya dan inovasi terus dilakukan sambil terus berkoordinasi dengan sang master serta diiringi doa yang tidak pernah putus. Akhirnya indukan-indukan yang tinggal berjumlah 13 ekor itu mampu bertahan, beradaptasi dan berkembang biak. Walaupun dalam kondisi yang tidak ideal, pemijahan pertama berhasil dilakukan. empat puluh ribu anakan berhasil lahir dan kini dikembangkan. 

Dengan penuh ketekunan dan kerja keras, roda bisnispun mulai berputar. Tidak perlu menunggu lama, dalam waktu kurang dari dua bulan permintaan benih mulai berdatangan baik dari Bengkayang sendiri maupun dari daerah lain, seperti Singkawang dan Pontianak. Dengan harga Rp. 300/ekor, persediaan benih yang ada laris manis. Padahal usaha ini belum diekspose, plang usaha saja belum dipasang  tapi permintaan membanjir.   

Demikian pula hal nya dengan roda pertablighan, seiring dengan semakin populernya lele Sangkuriang di Bengkayang, nama Ahmadiyahpun tidak dapat dipisahkan daripadanya. Berbagai pihak tertarik untuk datang. Mulai dari hanya ingin tahu dan penasaran, bagaimana mungkin ada lele bisa berkembang didaerah ekstrem seperti Bengkayang, dengan niat ingin belajar, berbisnis hingga yang ingin menjalin kerjasama pun semua ada. 

Yang datangpun dari berbagai kalangan, mulai dari RT, RW, lurah, camat, pihak kepolisian, Dinas Perikanan, tokoh-tokoh adat dayak hingga Bupati Bengkayang mengirimkan wakilnya untuk datang menyambangi rumah misi tempat lele Sangkuriang berada. Mereka sangat gembira, menyambut baik dan sangat mendukung usaha ini. Apalagi setelah mereka tahu bahwa usaha tersebut tidak hanya bisnis semata karena kemudian akan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekitar rumah misi tapi dengan ruang lingkup yang lebih luas. 

Pak Fitri siap melatih siapa saja yang ingin berusaha dibidang ini. Tidak hanya itu, pendampinganpun akan dilakukan mulai dari membuat perencanaan, membuat kolam, pemeiliharaan hingga panen. Bahkan untuk benih, para pengusaha boleh mengambil dulu secara gratis dan baru akan dibayar setelah panen (45 hari). 

Disinilah tabligh bil hal tengah dilakukan dan sedikit demi sedikit menampakkan buahnya. Tidak hanya membuat orang yang dulunya anti dengan keberadaan Ahmadiyah di Bengkayang lalu berubah menjadi lebih ramah, tapi juga membuat orang-orang berdatangan sehingga rabtah yang dulu sulit dilakukan tidak lagi dirasakan.  Selain itu, membantu peningkatan kualitas ekonomi masyarakat sekitar dan membawa manfaat bagi lingkungan  tentu membawa dampak yang baik pula bagi Jemaat. Amin.

2 komentar:

  1. aslm, potensi yang luar biasa, bisa jadi model untuk dikembangkan ditempat lain

    BalasHapus
  2. Ass. Seperti Hz. Mirza Masroor Ahmad ATBA, sebelum menjadi khalifah berkhidmat di bumi tandus Ghana untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyrakat lewat gandum selama bertahun-tahun.. kini hasilnya jutaan telah baiat!!

    semoga tabligh social responbility tersebut menghasilkan buah yang manis sama seperti di ghana.. Mubarak.

    BalasHapus