08/02/12

Muhyidin Syah Memukau Para Wartawan “Dengan Aura Syeikh Maulana”

Semarang, Jateng 1990.
Gedung Olah Raga- GOR Simpanglima semarang 1990an- Saksi Konferensi Perss JAI
Hari itu para petinggi JAI, diantaranya Abdul Hayye HP Sy- selaku Aditional Rais ut tabligh,  mewakili HMA Cheema HA Sy yang sedang cuti, Ir Pipip Sumantri- Sekjen PB JAI, Gunawan Jayaprawira- Isyaat PB, Syafiie R Batuah- Pemred Sinar Islam, dan Mln Muhyidin Syah Sy- Mubaligh Jateng DIY, berkumpul di Gedung Olahraga Simpang Lima Semarang-Jateng.
Mereka bukan ingin menonton even Olahraga. Tapi, hari itu , para Pejabat JAI  menyelenggarakan Konferensi Pers dalam rangka Penutupan Perayaan Seabad Jemaat Ahmadiyah International- yang berlangsung  sepanjang tahun 1989.


Pada waktu yang hampir bersamaan, Baharudin Muhtar dari PPMA, dan N.Kukuh S dari Isyaat PPMKAI, tengah membagikan bantuan sembako serta busana layak pakai- kepada korban Banjir Besar Semarang- yang merenggut sejumlah korban jiwa, serta meluluh lantakkan infrastruktur Ibukota Jawatengah itu.

Memukau Para Wartawan

Balai wartawan yang menempati teras depan sisi selatan dari Bangunan Gedung Olahraga Semarang , menjadi tempat dipajangnya  deretan Al Qur’an terjemahan 100 Bahasa Dunia- karya Jemaat Amadiyah International. Beberapa Buku terbitan JAI juga ikut dipajang, seperti Nabi Isa dari Palestina ke Kasmir, Filsafat Ajaran Islam dan Buku Putih.

Para Wartawan dari berbagai Media Nasional mulai berdatangan sejak pagi, memasuki Balai  Wartawan Semarang -yang di boking Panitia dari JAI. Para Khudam dan Anshar serta aktivis JAI Semarang, yang dikoordinir  Anwar Said SE- bertindak sebagai tuan rumah, berjejer dengan pakaian yang cukup rapi.

Setelah expose dan paparan serta Pers Release yang dibawakan oleh para Petinggi JAI, seperti biasa dibuka sesi tanya jawab. Karena yang hadir adalah mayoritas para wartawan Media Nasional seperti ;Tempo, Kompas, Kedaulatan Rakyat, Sura Merdeka, TVRI dll, tentu saja pertanyaaan yang disampaikan kepada para Pejabat JAI cukup berbobot dan kritis.

Beberapa pertanyaan telah dijawab oleh para pejabat JAI dari Pusat. Namun ada seorang wartawan yang mengenakan blangkon, tutup kepala khas Yogya-Solo, yang mengaku dari media Nasional yang cukup elite, dengan nada agak sinis- mengajukan pertanyaan bernuansa meremehkan Ahmadiyah. Dengan bahasa tubuh yang juga terlihat congkak, si Wartawan Blangkon bertanya begini; “Jika Memang Ahmadiyah adalah Islam Yang Benar, apa buktinya? Apa Prestasinya?.Katanya saat ini sudah Seratus Tahun Ahmadiyah berdiri? Apa darma baktinya bagi umat manusia?
 Lha Ini, di Semarang saja masih terjadi Banjir Bandang yang menyengsarakan umat manusia?! “ Ujarnya ber api-api. Padahal, dulu, hanya dalam 23 tahun , Nabi Muhammad telah mampu menghantarkan Umat Islam kemasa Kejayaannya!, tambah siBlangkon membandingkan.

Para hadirin terlihat ikut terbawa suasana tegang mendengar pertanyaan sang Wartawan Blangkon. 

Maklum, dimasa itu pendapat- pendapat Kritis masih dianggap tabu, apalagi yang bisa dinggap berbau SARA meremehkan Agama Kepercayaan orang lain. Dijaman Orde Baru, sikap kritis ditengah masyarakat memang nyaris terbungkam.  Yang anehnya, pertanyaan kritis itu justru muncul saat Ahmadiyah menjamu dengan ramah dan cukup mewah kepada para wartawan.

Team Pejabat JAI yang duduk dimeja depan, segera berunding untuk menentukan-siapa diatara mereka yang akan menjawab pertanyaan Kritis wartawan itu. Akhirnya Mln Muhyidin Syah SY- Mubaligh Jateng-DIY, dipercaya  untuk menjawab pertanyaan tajam sang wartawan.

Mubaligh Kelahiran Padang, yang lama menimba Ilmu di Rabwah Pakistan itu , dengan sikap tenang- dan senyum menghias dibibir,  tampil dengan gaya bahasa yang menyejukkan. 


Begini kurang lebih rangkaian jawabanya; “Bapak Ibu, Hadirin sekalian, serta rekan-rekan Wartawan yang sangat kami muliakan, terlebih dahulu saya sampaikan Asalamualaikum wr.wrb.” Salam dari Pak Muhyidin ini sejenak mampu membuat suasana di ruang Balai Wartawan Semarang hening! Buktinya, para hadirin menjawab serempak  dengan "waalaikum salaam", dan setelah itu -kompak terdiam.Senyap!  Entah apa sebabnya, yang jelas intonasi dan bahasa tubuh Mubaligh Wilayah Jateng –DIY itu  sangat  impresip- dan menohok nurani Sang Wartawan  Penanya bernada sinis tadi. Itu nampak dari raut wajah Sang Blangkon yang mulai tenang- dan makin serius menyimak jawaban Pak Muhyidin.

Mln Muhyidin melanjutkan, Jika membandingkan Nabi Muhammad dengan Pendiri Ahmadiyah Hz Mirza Ghulam Ahmad, tentu tidaklah adil. Apalagi kalau bicara Prestasi. Karena Pendiri Ahmadiyah mengatakan dalam bukunya, bahwa dirinya hanyalah “Debu di sepatu- alas kaki Rasululluah saw.” Jika tetap mau membandingkap dengan prestasi para Nabi lain, maka bandingkanlah dengan Nabi yang sama sama tidak membawa Syariat. 

Coba kita lihat Nabi Isa as yang tidak membawa syariat, dan hanya melanjutkan Syariat Nabi Musa as. Sementara Mirza Ghulam Ahmad - juga hanya melanjutkan Syariat Nabi Muhammad saw. Sejarah mencatat, dalam perjalanannya, para pengikut Nabi Isa, sekitar 300 tahun sepeninggal Yesus, masih hidup di Gua-Gua – yang kita kenal dalam kisah ashabul Kahfi.

Tapi coba bandingkan dengan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, pengikut Nabi Muhammad saw. ini,   baru seratus  tahun telah mampu menyebarkan Islam ke lebih 125 Negara di dunia. Dan yang paling nyata, coba lihat-  dihadapan para wartawan sekalian yang kami muliakan sekarang ini, telah berjejer Sejumlah Al Qur;an terjemahan dalam seratus Bahasa Dunia, yang kami dedikasikan buat menerangi umat manusia sedunia. Hal ini belum pernah dilakukan oleh lembaga Islam Dunia manapun, termasik OKI, yang katanya mewakili Islam sedunia itu. Apa lagi Kelompok atau Lembaga Islam Lokal, belum pernah ada mereka membuat program semacam itu.

 Mendengar jawaban Pak Muhyidin, sang Wartawan Kritis itu langsung nampak terkesima, dan dengan takzim kembali minta izin untuk berbicara, sambil memohon agar Ahmadiyah  bisa berperan aktip, khususnya di Jawatengah untuk menanggulangi berbagai bencana dan keterbelakangan pengetahuan masyarakatnya. Yang hebatnya, saat menyampaikan permohonan itu Sang Wartawan Menyapa Pak Muhyidin dengan penghormatan yang sangat tinggi-Layaknya Orang Jawatengah memanggil Para Wali Songo-  dengan menambahkan gelar “Syeih Maulana" didepan nama Muhyidin Syah Sy. (Enkhas/smg1990)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar